polisi

Sinterklas di Bulan Juli

Kisah ini berawal dari berkunjungnya seorang sahabat dekat saya ke rumah. Bak laki-laki gagah perkasa yang menghiasi iklan-iklan rokok, temanku, sebut saja Nico, datang dengan motornya yang kegedean. Setelah ngobrol sana-sini ngalur-ngidur tapi tetap teratur, Nico mengajak saya untuk heng-otke mall. Saya menerima ajakannya seperti anak umur lima tahun yang diiming-imingi permen pendekar biru serta mainan gundam murahan. Nico menunggu saya sejenak karena saya harus berdanadan-semprot parfum sana-sini, pilih-pilih baju, pilih-pilih jam tangan, pakai moisturizing cream, memberi makan anak anjing, garuk-garuk pantat, serta banyak hal penting lainnya-sejenak di kamar seadanya.

Setelah berpenampilan pol kayak Zac Efron di film “Seventeen Again” kami pun berangkat menuju salah satu mall terbesar di kota Palembang. Setelah cukup lama mengantri dan memberikan selembar uang dari dalam dompet yang terdalam, kami memasuki parkiran mall. Dua lelaki bujang yang tidak lagi bau kencur ini mulai memasuki pintu mall dengan senyum sumringah. Aku bagaikan Best Man of Groom yg tersenyum getir menanti di pernikahan sahabat dekat.

Sebenarnya kami memiliki tujuan yang pasti datang ke mall itu. Seperti kepastian gadis yang telah dilamar dan bulan depan pasti bakal nikah. Nico menemaniku ke mall ini untuk mencari modem CDMA EVDO Red-A yang telah lama saya impikan siang maupun malam. Setelah melewati beberapa toko, kami menemukan modem yang dicari. Ketika itu aku masih sangsi untuk membeli ketika itu juga atau tidak. Faktor terbesar adalah uang. Mengingat harga pendidikan dan beras saya pun mengurungkan niat untuk memiliki pujaan hati yang baru. Tapi dari sorot mata Nico yang tajam, setajam silet, Nico berubah menjadi sesosok wanita paruh baya bernama Evely Setiawan dari Agung Sedayu Group yang berkata seraya,

“Mulai senin harga sudah naik”

Saya teguh pendirian untuk menahan hasrat yang telah lama dipendam, bagaikan*e*u yang telah lama terpendam. Kami hanya berkeliling saja menikmati kemewahan yang disuguhkan. Tidak begitu lama kami berjalan berkeliling sambil menghilangkan lemak yang telah bergelayut di perut sejak lama, akhirnya kami menyerah keluar dari mall durjana itu sambil mengibar bendera putih.

Ketika keluar dari parkiran mall itu, saya sudah berfirasat tak enak. Ketika Nico bertanya, “Belok ke mana nih?”. “Kalo lurus ke Cinde, kalo kanan ke Sudirman.” Tanpa pikir panjang karena terdesak kendaraan di belakang, akhirnya Nico memutuskan untuk belok kanan.

Di pengkolan depan International Plaza, kami dihampiri dan dipirintahkan untuk stop oleh beberapa “Sinterklas” berkaca mata hitam. Aku merasa bagaikan maling ayam yang akan diamuk masa, ditelanjangi, lalu dibakar. Jangan tertawa! Karena ini serius! Kami didakwa dengan Pasal 69 KUHP Junto 33 Bab Pungutan Liar bahwa kami telah melanggar peraturan lalu-lintas dengan tidak menggunakan helm standard. Well, karena tak mau panjang lebar dan sudah capek ditanya hana-hini-hene-hono akhirnya segalanya tuntas dengan jalan “damai”.

Ininlah Indonesia, segalanya serba mudah dan praktis. Cukup kasih kertas, semuanya lancar jaya. Tapi emang sih kami juga cukup diuntungkan. Sejatinya ini adalah bentuk dari simbiosis mutualisme yang nyata.

Terima kasih Sinterklas di bulan Juli!

 

Cerita ini dipersembahkan oleh:

BKKNB. “Dua anak saja cukup!”