palembang

Main Bareng Peach Pachara di Universal Studios: Singapore Day 3

Aku melangkahkan kaki menuju MRT Station terdekat. Melintasi East-West Line atau jalur hijau menuju arah Selatan.Aku lalu turun di Outram Park Interchange Station untuk berpindah ke North-East Line menuju stasiun terakhir, HarbourFront Station. Di belakang Vivo City Mall yang belum dibuka, aku kembali berjalan kaki melewati Sentosa Board Walk sepanjang 670 meter menuju Sentosa Island. Di gerbang Sentosa Island, aku membayar 1 SGD saja menggunakan EZ Link. Sentosa Island, here I come!

(more…)

Snack and the City: Singapore Day 2

Yuhuu~ Ini hari kedua dari rangkaian jelajah Singapura. Hari ini hanya dihabiskan untuk mengelilingi kota (benar-benar mengelilingi) sampe capek. Mencoba merasakan rasanya menjadi rakyat Singapura seutuhnya. Dimulai dari jalan-jalan pagi cantik ke Gardens by the Bay, lalu belanja-belanja cantik di Orchard Road, melangkahkan kaki di riuhnya suasana China Town, kongkow-kongkow asik di Clarke Quay, menyusuri Singapore River hingga ke Merlion Park di malam hari. Kelelahan tiada tara!

Lanjut di Sini

Kuala Lumpur, Sehari Aja Cukup

Kebangun setelah tidur beberapa jam. Memandangi langit malam Kuala Lumpur yang cerah bertabur bintang. Indah banget. Bintang di langit Nampak jelas mungkin karena rumah temenku ini bagian dari sebuah perumahan yang indah di atas bukit. Aku langsung liat ponsel. Tertera pukul 5 subuh. Jam lima subuh waktu Malaysia. Kok masih sepi ya. Lalu aku terpikir kalo jam lima sini setara jam empat di Indonesia. Pantes. Lalu aku tarik selimut, tidur lagi. Serasa jetlag gitu deh.

Tulisan kali ini menyambung tulisan kemaren, baru nyampe di Malaysia. Jam enam tepat aku bangun lagi. Udah pas nih waktunya untuk siap-siap dandan kece untuk berpetualang di Kuala Lumpur sendirian. Lanjut di Sini

Semalam di Kuala Lumpur Pt. 2 ajah

Baiklah, aku akhirnya memiliki keberanian yang kuat untuk melanjutkan cerita aku di Kuala Lumpur, yang dimulai di artikel ini.

Perjalanan aku ke Kuala Lumpur dimulai dengan menunggangi pesawat AirAsia AK 1303. Sesuai boarding pass yang udah dicetak dari rumah, aku akan duduk di kursi C, alias di lorong baris sebelah kiri. Ketika sampe di nomor kursi itu, udah duduk sepasang anak muda yang tampaknya baru saja merengkuh manisnya mahligai rumah tangga. Lanjut di Sini

Nunggu di Bandara, Ngapain?

Kalo naek pesawat pasti ke bandara lebih awal dong ya, ngurus pajak bandara serta boarding pass-nya. Belum lagi kalo di jalan macet, terus jalan ga bisa dilewati sama sekali karena ada Kaiju atau Godzilla, atau ada banjir mendadak, belum lagi kalo ada dangdutan di pinggir jalan yang bikin jalan tersendat. Maka dari pada itu biasanya paling ga dua jam sebelum keberangkatan udah duduk manis di bandara.
 
mtf_ELhpD_248

nunggu penerbangan ke Kuala Lumpur

Lanjut Baca di Sini

Semalam di Kuala Lumpur Pt. 1: Sebuah Pembuktian Diri

Tanggal 16 Oktober 2013 merupakan sebuah tanggal penting bagi hidupku. Malah tanggal ini aku rasa lebih penting dari pada tanggal 10 Oktober 2013 yang merupakan hari wisuda S1 gue. Pada hari Rabu minggu ketiga di bulan Oktober dan bertepatan sehari setelah Hari Raya Idul Adha itu, untuk pertama kalinya aku melakuakan perjalanan jauh sendirian.

Lanjut Baca di Sini

Sinterklas di Bulan Juli

Kisah ini berawal dari berkunjungnya seorang sahabat dekat saya ke rumah. Bak laki-laki gagah perkasa yang menghiasi iklan-iklan rokok, temanku, sebut saja Nico, datang dengan motornya yang kegedean. Setelah ngobrol sana-sini ngalur-ngidur tapi tetap teratur, Nico mengajak saya untuk heng-otke mall. Saya menerima ajakannya seperti anak umur lima tahun yang diiming-imingi permen pendekar biru serta mainan gundam murahan. Nico menunggu saya sejenak karena saya harus berdanadan-semprot parfum sana-sini, pilih-pilih baju, pilih-pilih jam tangan, pakai moisturizing cream, memberi makan anak anjing, garuk-garuk pantat, serta banyak hal penting lainnya-sejenak di kamar seadanya.

Setelah berpenampilan pol kayak Zac Efron di film “Seventeen Again” kami pun berangkat menuju salah satu mall terbesar di kota Palembang. Setelah cukup lama mengantri dan memberikan selembar uang dari dalam dompet yang terdalam, kami memasuki parkiran mall. Dua lelaki bujang yang tidak lagi bau kencur ini mulai memasuki pintu mall dengan senyum sumringah. Aku bagaikan Best Man of Groom yg tersenyum getir menanti di pernikahan sahabat dekat.

Sebenarnya kami memiliki tujuan yang pasti datang ke mall itu. Seperti kepastian gadis yang telah dilamar dan bulan depan pasti bakal nikah. Nico menemaniku ke mall ini untuk mencari modem CDMA EVDO Red-A yang telah lama saya impikan siang maupun malam. Setelah melewati beberapa toko, kami menemukan modem yang dicari. Ketika itu aku masih sangsi untuk membeli ketika itu juga atau tidak. Faktor terbesar adalah uang. Mengingat harga pendidikan dan beras saya pun mengurungkan niat untuk memiliki pujaan hati yang baru. Tapi dari sorot mata Nico yang tajam, setajam silet, Nico berubah menjadi sesosok wanita paruh baya bernama Evely Setiawan dari Agung Sedayu Group yang berkata seraya,

“Mulai senin harga sudah naik”

Saya teguh pendirian untuk menahan hasrat yang telah lama dipendam, bagaikan*e*u yang telah lama terpendam. Kami hanya berkeliling saja menikmati kemewahan yang disuguhkan. Tidak begitu lama kami berjalan berkeliling sambil menghilangkan lemak yang telah bergelayut di perut sejak lama, akhirnya kami menyerah keluar dari mall durjana itu sambil mengibar bendera putih.

Ketika keluar dari parkiran mall itu, saya sudah berfirasat tak enak. Ketika Nico bertanya, “Belok ke mana nih?”. “Kalo lurus ke Cinde, kalo kanan ke Sudirman.” Tanpa pikir panjang karena terdesak kendaraan di belakang, akhirnya Nico memutuskan untuk belok kanan.

Di pengkolan depan International Plaza, kami dihampiri dan dipirintahkan untuk stop oleh beberapa “Sinterklas” berkaca mata hitam. Aku merasa bagaikan maling ayam yang akan diamuk masa, ditelanjangi, lalu dibakar. Jangan tertawa! Karena ini serius! Kami didakwa dengan Pasal 69 KUHP Junto 33 Bab Pungutan Liar bahwa kami telah melanggar peraturan lalu-lintas dengan tidak menggunakan helm standard. Well, karena tak mau panjang lebar dan sudah capek ditanya hana-hini-hene-hono akhirnya segalanya tuntas dengan jalan “damai”.

Ininlah Indonesia, segalanya serba mudah dan praktis. Cukup kasih kertas, semuanya lancar jaya. Tapi emang sih kami juga cukup diuntungkan. Sejatinya ini adalah bentuk dari simbiosis mutualisme yang nyata.

Terima kasih Sinterklas di bulan Juli!

 

Cerita ini dipersembahkan oleh:

BKKNB. “Dua anak saja cukup!”