Trip

Jogja Istimewa: Gudeg Yu Djum – Wijilan

Yu Djum, Gudeg tersohor dari Jogja

Di sore itu, setelah menyusuri Jalan Malioboro hingga ke alun-alun Selatan (alun-alun depan keraton) dan sempat singgah ke Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, gue berniat melanjutkan perjalanan ke Taman Sari. Gue berjalan melewati warung-warung yang biasanya akan dibuka dan mulai ramai pada malam hari. Setelah melewati bapak-bapak yang lagi antre mau cukur rambut dan beberapa bule yang tampak kebingungan, sampailah gue di persimpangan jalan. Inilah hal yang sangat gue suka di Jogja, hampir di setiap tempat, lo akan menemukan petunjuk arah terutama untuk ke tepat-tempat wisata. Di persimpangan jalan itu, sinyal yang tertanam di perut gue tiba-tiba teraktifasi, ‘kriuk-kriuk’ bunyinya. Ya Karena mata gue menatap tulisan, “Sentra Gudeg,” begitulah kira-kira tertulis. Tanpa berpikir panjang dan tidak takut untuk tersesat, neuron-neuron otak memberi komando untuk belok kiri lalu lurus.

Sampailah gue di depan sebuah gerbang kota tua putih yang tinggi, setelah melewati gerbang itu, terbentang pemandangan yang sangat gue idam-idamkan, restoran/warung gudeg di kanan dan kiri yang menawarkan aroma yang menggugah sinyal-sinyal perut keroncongan ini. Jadi inilah Wijilan, sentra penjualan gudeg tersohor se-kota Yogyakarta. Dari ujung ke ujung, kanan dan kiri hampir semuanya jualan gudeg, well ada sih satu dua toko yang jualan bakpia – makanan khas Yogya – terselip di antara banyaknya warung gudeg. Fyi, gudeg adalah makanan tanah Jawa yang gue gemari selain pecel dan rujak cingur. Banyak temen gue heran kenapa gue doyan gudeg padahal rasanya terlalu manis (untuk sebagan besar orang Sumatera), Karena di Sumatera yang namanya nangka muda itu dibuat gulai, bukannya dikasih gula merah. Entahlah, mungkin Karena gue doyan makan hahahah dan gue rada lebih suka makanan manis ketimbang asin. Karena banyaknya warung yang menjual gudeg, gue terjebak kebingungan, WARUNG MANA YANG JUAL GUDEG PALING ENAK. Setelah browsing, gue menemukan salah satu yang enak, yaitu Gudeg Yu Djum.

Inilah Jalan Widjilan yang isinya Gudeg semua

Di Wijilan saja, Gudeg Yu Djum memiliki dua cabang, belum lagi warung lain yang salah satunya ada di jalan arah Bandara Adi Sucipto. Di bagian depan, si mbok penjual gudegnya sudah siap menghidangkan gudeg sesuai pesanan. Kalo mau pesan, kita cukup bilang ke mbok untuk diracik. Secara umum, nasi gudeg dihidangkan dengan krecek, suwiran ayam goreng/opor, telur rebus (semacam telur pindang), dengan taburan cabe rawit utuh dan siraman blondo atau areh (kuah santan yang sangat kental nan gurih). Saat itu gue pesen nasi gudeg pake ayam paha atas. Sebagai penikmat gudeg sejati, gue rasa gudeg ini beneran enak dan gurih. Pantas sih kalo Gudeg Yu Djum ini memiliki banyak cabang, sepeti halnya Pempek B*ring*n dan C*ndy di Palembang. Nasinya pulen, gudegnya memiliki cita rasa yang pas dan empuk, kreceknya pas, kuah arehnya sungguh gurih dan pantas bersanding dengan gudeg yang manis.

Sluuurrrpppp!

Gudeg Yu Djum dapat dibawa sebagai oleh-oleh dengan cara dikemas di dalam besek (kotak berbahan ayaman daun kelapa) dan bisa tahan sampai dua hari kalo ga salah. Jadi kalo mau makan yang Jogja banget, mesti disempetin mampir ke jalan Widjilan di dekat Keraton Yogyakarta. Kalo doyan makanan Jawa, khususnya Gudeg, pasti bahagia banget, kaya gue hahaha

Harga    : Rp. Rp.

Rasa    : kiss-mark.pngkiss-mark.pngkiss-mark.pngkiss-mark.pngkiss-mark.png 5 bibir!

Si Mbok meracik Gudeg yang dipesan

Telor rebus, lauk standar pendamping nasi gudeg

Ini Gudeg sang jawaranya

Yang menu terakhir mungkin porsi buat hajatan

 

Main Bareng Peach Pachara di Universal Studios: Singapore Day 3

Aku melangkahkan kaki menuju MRT Station terdekat. Melintasi East-West Line atau jalur hijau menuju arah Selatan.Aku lalu turun di Outram Park Interchange Station untuk berpindah ke North-East Line menuju stasiun terakhir, HarbourFront Station. Di belakang Vivo City Mall yang belum dibuka, aku kembali berjalan kaki melewati Sentosa Board Walk sepanjang 670 meter menuju Sentosa Island. Di gerbang Sentosa Island, aku membayar 1 SGD saja menggunakan EZ Link. Sentosa Island, here I come!

(more…)

Snack and the City: Singapore Day 2

Yuhuu~ Ini hari kedua dari rangkaian jelajah Singapura. Hari ini hanya dihabiskan untuk mengelilingi kota (benar-benar mengelilingi) sampe capek. Mencoba merasakan rasanya menjadi rakyat Singapura seutuhnya. Dimulai dari jalan-jalan pagi cantik ke Gardens by the Bay, lalu belanja-belanja cantik di Orchard Road, melangkahkan kaki di riuhnya suasana China Town, kongkow-kongkow asik di Clarke Quay, menyusuri Singapore River hingga ke Merlion Park di malam hari. Kelelahan tiada tara!

Lanjut di Sini

Seorang Pemuda di Singapore : Singapore Day 1

Memulai pagi pertama di Singapore, aku sibuk bikin sarapan. Mungkin sekitar 8 lembar roti gandum telah aku panggang, yang lalu diolesi dengan selai kacang dicampur selai stroberi. Energen rasa kacang hijau yang aku bawa dari rumah aku seduh dengan air hangat. Sementara menunggu semuanya dingin, aku mengutak-atik iMac untuk sekedar browsing dan upload foto-foto dari Malaysia kemarin. Entah aku memang agak gaptek atau memang ga bisa plug and play sama ponselku, foto-foto yang tersimpan ga bisa diunggah ke komputer itu. Hari ini aku akan naik Marina Bay Sands yang super gede!

Lanjut di Sini

Jalan ke Singapore: Malam Pertama

Ini malam pertama dari rangkaian tiga hari jalan di SIngapore. Setelah penerbangan malam-malam dari LCCT, Kuala Lumpur, aku tiba di Changi Airport, Singapore, di waktu MRT hampir selesai beroperasi. Malam, di negeri orang, sendirian, cukup sudah bikin hampir jantungan.

Lanjut di Sini

Kuala Lumpur, Sehari Aja Cukup

Kebangun setelah tidur beberapa jam. Memandangi langit malam Kuala Lumpur yang cerah bertabur bintang. Indah banget. Bintang di langit Nampak jelas mungkin karena rumah temenku ini bagian dari sebuah perumahan yang indah di atas bukit. Aku langsung liat ponsel. Tertera pukul 5 subuh. Jam lima subuh waktu Malaysia. Kok masih sepi ya. Lalu aku terpikir kalo jam lima sini setara jam empat di Indonesia. Pantes. Lalu aku tarik selimut, tidur lagi. Serasa jetlag gitu deh.

Tulisan kali ini menyambung tulisan kemaren, baru nyampe di Malaysia. Jam enam tepat aku bangun lagi. Udah pas nih waktunya untuk siap-siap dandan kece untuk berpetualang di Kuala Lumpur sendirian. Lanjut di Sini

Semalam di Kuala Lumpur Pt. 2 ajah

Baiklah, aku akhirnya memiliki keberanian yang kuat untuk melanjutkan cerita aku di Kuala Lumpur, yang dimulai di artikel ini.

Perjalanan aku ke Kuala Lumpur dimulai dengan menunggangi pesawat AirAsia AK 1303. Sesuai boarding pass yang udah dicetak dari rumah, aku akan duduk di kursi C, alias di lorong baris sebelah kiri. Ketika sampe di nomor kursi itu, udah duduk sepasang anak muda yang tampaknya baru saja merengkuh manisnya mahligai rumah tangga. Lanjut di Sini

Nunggu di Bandara, Ngapain?

Kalo naek pesawat pasti ke bandara lebih awal dong ya, ngurus pajak bandara serta boarding pass-nya. Belum lagi kalo di jalan macet, terus jalan ga bisa dilewati sama sekali karena ada Kaiju atau Godzilla, atau ada banjir mendadak, belum lagi kalo ada dangdutan di pinggir jalan yang bikin jalan tersendat. Maka dari pada itu biasanya paling ga dua jam sebelum keberangkatan udah duduk manis di bandara.
 
mtf_ELhpD_248

nunggu penerbangan ke Kuala Lumpur

Lanjut Baca di Sini

Semalam di Kuala Lumpur Pt. 1: Sebuah Pembuktian Diri

Tanggal 16 Oktober 2013 merupakan sebuah tanggal penting bagi hidupku. Malah tanggal ini aku rasa lebih penting dari pada tanggal 10 Oktober 2013 yang merupakan hari wisuda S1 gue. Pada hari Rabu minggu ketiga di bulan Oktober dan bertepatan sehari setelah Hari Raya Idul Adha itu, untuk pertama kalinya aku melakuakan perjalanan jauh sendirian.

Lanjut Baca di Sini