Seorang Pemuda di Singapore : Singapore Day 1

Memulai pagi pertama di Singapore, aku sibuk bikin sarapan. Mungkin sekitar 8 lembar roti gandum telah aku panggang, yang lalu diolesi dengan selai kacang dicampur selai stroberi. Energen rasa kacang hijau yang aku bawa dari rumah aku seduh dengan air hangat. Sementara menunggu semuanya dingin, aku mengutak-atik iMac untuk sekedar browsing dan upload foto-foto dari Malaysia kemarin. Entah aku memang agak gaptek atau memang ga bisa plug and play sama ponselku, foto-foto yang tersimpan ga bisa diunggah ke komputer itu. Hari ini aku akan naik Marina Bay Sands yang super gede!

  • Singapore Central Bussiness District (S-CBD)

Petualangan aku pagi ini dimulai di sekitaran Singapore CBD. Aku habiskan semua roti dengan cepat. Ga sabar untuk menginjakkan kaki di jantung kota Singapore. Aku lalu melangkah menuju stasiun MRT terdekat. Stasiun MRT tujuanku adalah Raffles Place MRT Station (NS26/EW14).

suka bangunan ini *peluk*

Pintu Masuk Raffles Place MRT Station

Dari sini sih rencananya mau ke Marina Bay Promenade, One Fullerton, ya sekitaran Merlion gitu deh. Tapi aku mampir dulu ke Starbucks terdekat, mau beli tumbler City Icon Singapore. Yaaaayyy!!! Starbucks yang paling dekat dari Raffles Place ada di Singapore Land Tower di 50 Raffles Place. Di sini aku mengadopsi tumbler biru lucu ini. Harga tumbler ini cukup mahal, 20,9 SGD dengan sebelumnya aku beli Starbucks Card edisi Singapore ini. Tumbler termahal yang pernah aku beli.

Tumbler Starbucks SIngapore yang Mahal Itu

Dari Starbucks, karena udah siang, aku maunya makan siang di salah satu hawker center (aka food court) terkenal di Singapore, Lau Pa Sat (“old market”). Lau Pa Sat ini dulunya bekas pasar pertama di Singapore, Telok Ayer Market. Lau Pa Sat dibuka pada tahun 1991 (kalo ga salah) dan terkenal sebagai tempat nongkrongnya penjual sate terenak atau paling enak di Singapore. Tapi sayangnya pas aku ke sana Lau Pa Sat lagi direnovasi. L

Dengan langkah pasti, ceritanya aku mau ke Cavanaugh Bridge di mulut Singapore River. Tapi aku malah tersesat di pojok Amoy Street, yang merupakan suatu taman. Di sini aku ditolong oleh tap water untuk melegakan panas dalam. DI taman kecil ini cukup rindang. Ada patung-patung yang menujukkan geliat kehidupan masa lalu di Singapura. Katanya daerah sini dulunya pasar ikan (Telok Anyer Market?) maka di sini ada beberapa patung penjual ikan gitu.

Awalnya aku pikir jualan kue -_-

Walaupun sepertinya aku tersesat, aku terus jalan kaki tiada lelah. Menyusuri Singapore River, akhirnya aku sampe di Cavanaugh Bridge! Horray! Aku jalan cepat mau peluk jembatan tua itu. Insiden terjadi, jam tangan aku jatoh di tepian sungai tepat di depan oma penjual es potong. Oma itu melotot, apa lagi aku. L Ternyata tali kulitnya putus, untung ga pecah, apalagi masuk sungai, bisa nangis guling-guling di negeri orang deh.

anak-anak yang mau bunuh diri 😥

Jembatan ini dulunya dilalui kendaraan loh, tapi akhirnya ditutup dan dikhususkan untuk orang yang jalan kaki dan bersepeda. Jembatan ini udah menjadi bangunan yang dilindungi pemerintah Singapura. Yah coba Jembatan Ampera di Palembang juga diperlakukan kayak gini ya. Ga lama-lama duduk di pinggir sungai karena udah panas, lapar, dan takut ketinggalan sholat jumat, aku bergegas ke Masjid Sultan (Sultan Mosque) di daerah Kampong Glam.

  • Sultan Mosque

Dari Raffles Place MRT Station, aku menuju Bugis MRT Station (EW12/DT14). Di sini aku kayaknya sedikit tersesat. Aku udah yakin kalo masjidnya itu dekat banget, jalan lurus aja lalu nyebrang jalan ke kanan, sekitar Arab Street gitu deh. Tapi karena cemas ga denger suara ngaji kayak biasanya, aku bingung. Hahhah. Pas jalan dikit, dari kejauhan aku liat rombongan anak-anak sekolah yang berjilbab dan berpeci keluar dari satu jalan. Satu rombongan pertama yang aku temui adalah anak-anak perempuan melayu madrasah berjilbab gitu. Sebagai pemuda melayu yang keinggris-inggrisan, aku sok tanya pake bahasa Inggris, “where’s the nearest mosque? Do you know Sultan Mosque?” dengan tampang meyakinkan nan solehah. Raut muka mereka yang tadinya ceria berubah takut. Oke, ini kali kedua gue dianggap penculik anak gadis. K Lalu mereka jawab, “kat sana”, sambil nunjuk ke arah seberang kanan. Yaelaahh sama-sama melayu pake sok-sok Bahasa Inggris, gitu mungkin mereka pikir hahahah. Aku lalu bilang terima kasih pake bahasa Indonesia (Melayu?).

Lalu di rombongan kedua, rombongan anak-anak cowok berpeci dan ustadz-ustadz yang dari madrasah menuju masjid. Karena udah salah kaprah tadi, sebagai pemuda melayu masa kini, aku tanya seorang ustdadz karena udah terdengar adzan, “permisi, sudah mulai kah?” dengan aksen melayu yang dipaksakan. “belom, ini adzan pertame.” Oke pak cik. Hahhaha. Lalu aku jalan beriringan mereka menuju masjid karena takut tersesat. *Padahal masjidnya udah keliatan*

Arsitektur bangunannya keren

Masjid Sultan atau Sultan Mosque ini berada di Muscat Street di distrik Kampong Glam. Masjid ini selesai dibangun pada tahun 1928 dan menjadi monument nasional pada 8 Maret 1975. Wuih udah hampir seratus tahun ya tuanya. Salah satu masjid terbesar dan teraktif di Singapore loh. Sholat Jumat di masjid ini berlangsung seperti biasa kayak di Indonesia *yaeyalah* tapi ada pembedanya, khotbah di masjid ini disampaikan dengan Bahasa Melayu. Jujur pas khotbah disampaikan, aku ketiduran gitu deh, abis masjidnya sejuk sih *alasyan*. Sebagai pemuda melayu, aku merasa gagal.

Di pelataran masjid banyak ibu-ibu yang jual makanan melayu gitu. Tapi jujur aku ga tau itu makanan apa aja, ada yang digoreng, ada yang direbus. Sebagai pemuda melayu sejati, perut ini mencari-cari nasi. Aku butuh nasi lemak! Tapi mereka ga jual nasi lemak. Yowis, aku ke seberang masjid. Di sana banyak restoran-restoran melayu (india?). Niatnya mau beli martabak rusa. Itu martabak telor yang isinya daging rusa. Liur sudah terkumpul di mulut, tapi aku lebih memilih pesan nasi goring merah. Takutnya nanti aku darah tinggi (padahal harganya mahal). Hahahha. Nasi goreng ini lumayan murah, cukup 4 SGD perporsi. (40 ribu rupiah lo kate murah?) iya lumayan 4 dollar itu tergolong murah untuk makan. L Nasi gorengnya banyak banget sodara-sodara. Untung perut aku cukup elastis hahahaha…

  • Marina Bay Sands

Pemberhentian selanjutnya hari itu adalah Marina Bay Sands. Gedung terbaru dan kayaknya tertinggi di Singapore ini dibuka pada April 2010. Ga ada yang ga tau kayaknya sama bangunan yang bersisi hotel, kasino, mall, ruang pertunjukan, dan museum terbesar di Singapore ini. Aku turun di Marina Bay MRT Station (NS27/CE2/TS20) yang berada di bawah tanah. Sebelum naik ke puncak Marina Bay Sands, aku harus beli tiketnya dulu di lobby tower 3. Harga tiketnya lumayan sih yaaa 20 SGD. *miskin mendadak*Skypark Marina Bay Sands berada di lantai 57. Huwaaaa….. dan pengunjung harus naik tangga. Eh bohong hahhahhahha… dari konter tiket, ikutin jalurnya menuju lift tersendiri. Dan ini lift tercepat yang pernah aku tunggangi. Bayangkan 57 lantai cukup ditempuh dengan waktu kurang dari 30 detik. Ngupil belum selesai udah sampe di lantai 57 hahahha.

MBS dan Art Science Museum

Di puncak hotel ini kita bisa melihat keseluruhan Teluk Marina Singapura. Ga ada kata yang tepat untuk mengungkapkan sensasinya, sensasi ditiup angin di area terbuka lantai 57. Awalnya bimbang antara Singapore Flyer atau Skypark MBS, akhirnya pilih skypark karena pengunjung bebas nongrong sampe tempatnya tutup. Oh iya di atas sini ada Ku De Ta bar. Di sini kita bisa minum-minum cantik wine atau makan-makan kece sambil menikmati pemandangan 360 derajat.

Ditegur petugas karena pose menantang ini

I am the king of the world!!!

Aku nongkrong dari pukul 4 sore hingga matahari berganti bulan.

Karena udah malam, aku turun lalu jalan menyusuri Marina Bay Promenade. Kalo di sini, malam orang-orangnya suka banget lari atau sekedar jogging sehabis pulang kerja. Ada juga yang sibuk pacaran denganm berbagai gaya mesum di kursi-kursi pinggir teluk. Tadinya mau ke Raffles Palce untuk mengakhiri petualangan hari ini tapi aku tersesat di Boat Quay.

  • McDonald’s Boat Quay

Inget belum makan malam tapi di sini semuanya resto dan kafe mahal, aku mempercepat langkah dan memekuk dompet. Tapi di ujung Canal Road, aku melihat papan penunjuk Mcdonald’s! Aku selamaaat ahahhah. Semakin bernafsu karena ngeliat papan iklan dengan gambar burger, kentang goreng, dan coca cola yang dingin sekali. Ahhh surga. Bagaikan Spongebob yang ngeliat Kraby Patty, aku antre dengan mata berbinar. Ternyata mereka punya paket burger, kentang goreng, dan cola dengan harga termurah di Singapore. Cukup 3 SGD aja udah kenyaaang. Uhuy! Om puas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s