Jalan ke Singapore: Malam Pertama

Ini malam pertama dari rangkaian tiga hari jalan di SIngapore. Setelah penerbangan malam-malam dari LCCT, Kuala Lumpur, aku tiba di Changi Airport, Singapore, di waktu MRT hampir selesai beroperasi. Malam, di negeri orang, sendirian, cukup sudah bikin hampir jantungan.

Tulisan perjalanan tiga hari di Singapore semoga bisa menjawab rasa penasaran khayalak ramai di luar sana yang berkomentar, “Mahal ga sih jalan-jalan?”, “Abis duit berapa?”, “Ih berduit banget bisa jalan-jalan ke luar.”, “Ikut tour travel agent mana?”, “Bawa duit berapa?”.

Yakaleee hari gini jalan-jalan mesti ngeluarin duit banyak sampe menjual segalanya, termasuk harga diri. Menurut aku kalo kita menempatkan diri sebagai pengembara/pejalan/traveler mandiri (aku bukan backpacker)maka kita bisa mengatur dengan mengirit pengeluran apa saja yang sesungguhnya menjadi prioritas dan tidak. Jadi kita bisa menerapkan teori skala prioritas. Halah. Mana yang penting bangeet dan mana yang ga terlalu amat penting banget sekali.

Untuk mengatur dan mengontrol keuangan aku selama jalan, aku dibantu aplikasi di Android bernama Toshl Finance. Aplikasi ini berguna banget untuk mengatur keuangan kita selama jalan. Di aplikasi ini aku bisa catet pengeluraan apa aja, membuat rencana keuangan, serta mengetahui sisa uang yang aku punya. User friendly deh. Baiklah langsung aja cerita ya.

  • Changi International Airport Singapore

    Setelah lebih dari 45 menit terbang dari LCCT Kuala Lumpur, akhirnya aku sampai di Changi, Singapore. Hooraaay! Berbalik 360 derajat dari LCCT yang merupakan low cost terminal di Kuala Lumpur. Aku sampe di terminal 1(kalo ga salah Changi punya 4 terminal). Pas keluar, ada instalasi lampu yang bergerak naik turun kayak tetes hujan gitu yang disebut sebagai Kinetic Rain. Karena suka ngeliatinnya, aku dokumentasiin deh terus aku kirim videonya ke Instagram.

    ini nih yang bikin ketinggalan kereta 😀

    Gara-gara asyik dokumentasiin instalasi seni ini, aku jadi lupa untuk lanjut jalan. Waktu udah sekitar pukul 22.30 waktu Singapore. Jam 23 MRT di Singapore berhenti beroperasi. Jadilah aku buru-buru mengejar Skytrain ke Terminal 2 karena Changi MRT Station ada di terminal 2. Di terminal 2 aku langsung beli Ez Link. Ez Link ini semcam kartu super (pasca bayar/prepaid card) yang bisa dipake buat bayar kereta, bus (bas), belanja di 7/11 (sevel), bayar parkir, bahkan bayar tol. Kalo di Indonesia, semacam Flazz BCA. Harga Ez Link-nya 12 SGDollar (kalo ga salah udah terisi 5 SGD), nah langsung aku top up alias isi ulang 10SGD aja. Aku pikir cukuplah untuk tiga hari.

    Wujud dari kartu sakti

    Untuk rute MRT Singapore, aku pake aplikasi Explore Singapore MRT Map di ponsel android. Kita cukup klik stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan, nanti aplikasi ini ngasih tau lewat jalur mana aja, transit di mana aja, beserta estimasi saldo yang bakal kepotong di Ez Link kita. Praktis kan? Ga perlu liat peta MRT setiap kita mau naik.

    Keretanya datang terus aku naik deh. Karena asyik rekam Kinetic Rain tadi, aku terdampar di Tanah Merah MRT Station. Jeng! Jeng! Iya! Terdampar! Pengumumannya kurang lebih gini, “Tanah Merah … Train service ends here. Attention please. There are no more trains in the station. There are no more trains in the station. Thank you for travelling with SMRT … Tanah Merah. Good night.”

    Gelagapan dong. Bayangin, udah mau tengah malem, belum sampe tengah kota, masih jauh dari Lavender Street, naik taksi pasti mahal, duit terbatas. Mau nangis rasanya. Ide gila muncul di kepala, aku mau LARI, iya lari sampe Lavender. Hahahhahh. Ga tau deh itu jauhnya berapa puluh kilometer. Bergegas aku turun ke bawah ke depan MRT Station. Di Singapore, yang hebatnya, di setiap MRT Station pasti ada Bus Station. Ternyata bus masih beroperasi! Eureika! Langsung aku baca secara cepat rute bus nomor berapa yang lewat Lavender Street. Walaupun ga ngerti dan masih ragu, aku beraniin aja naik bus nomor 49 (kalo ga salah).

    Bayar busnya pake Ez Link yang aku beli tadi. Jadi kita masuk dari pintu depan langsung tap(temple) di alat di samping supirnya, nanti turun di pintu tengah lalu tap lagi di alat pendeteksinya. Sistem akan potong saldo kartu kita sesuai jarak tempuhnya, jadi tarifnya bervariasi. Turun di depan Lavender MRT Station, aku langsung buka aplikasi offline map di android yang namanya City Maps to Go. Di aplikasi ini, kita bisa download peta kota-kota besar di dunia yang nantinya bisa dibuka tanpa jaringan internet (offline map). Abis liat peta, aku baru sadar kalo masih jauh banget menuju Rucksack Inn, tempat aku akan menginap.

  • Rucksack Inn Lavender Street
  • Peta ke Rucksack Inn Lavender

    Dari Lavender MRT Station aku jalan bagai Hatchi the Bee yang mencari ibunya~ Mama~ Mama~ Dimanakah kau berada~ hahahha. Harusnya dari Lavender MRT Station, aku nyambung naik bus 133 atau nomor 145. Udah tengah malam, sepi, tapi di jalan aku ketemu beberapa orang yang jogging dan lari di tengah malam. Ya kalo Palembang seaman itu di tengah malam, aku juga mau lari-larian gitu. Indo Runners Night Run~ #eaaa. Ga tau deh berapa kilo aku jalan sambil gendong tas di punggung. Akhirnya sampe juga di Rucksack Inn, salah satu hostel keren di Songapore. Untuk Rucksack Inn nanti aku bikin post sendiri deh.

    Lanjut tidur, besok siap-siap berpetualang di negeri Singa, Singapore! 😀

    Pesan moral: Jangan terlalu katrok dan terlena, nanti ketinggalan kereta. Bisa runyam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s