Semalam di Kuala Lumpur Pt. 2 ajah

Baiklah, aku akhirnya memiliki keberanian yang kuat untuk melanjutkan cerita aku di Kuala Lumpur, yang dimulai di artikel ini.

Perjalanan aku ke Kuala Lumpur dimulai dengan menunggangi pesawat AirAsia AK 1303. Sesuai boarding pass yang udah dicetak dari rumah, aku akan duduk di kursi C, alias di lorong baris sebelah kiri. Ketika sampe di nomor kursi itu, udah duduk sepasang anak muda yang tampaknya baru saja merengkuh manisnya mahligai rumah tangga. Yang cowok (suaminya) bilang,

“maaf mas, mas gpp kan duduk di kursi A?”, sambil harap-harap cemas gitu.

“errr, ga masalah sih”, sambil menempatkan ransel ke kompartemen atas.

Aku malah seneng karena aku paling suka duduk di dekat kaca, ntah itu di kereta, bus, pesawat, bahkan andong serta odong-odong.

Ketika pesawat siap untuk take-off, aku baru sadar kenapa mereka minta gantian tempat duduk. Mereka (kayaknya) takut sama prosesi ini. Mereka terlihat memejamkan mata sambil berpegangan tangan mesra. CIh! Mau bikin aku iri! Cih! Sepanjang penerbangan itu, aku hanya menatap nanar kaca pesawat sambil beruraian air mata.

Ga lama, sekitaran satu jam, pramugari AirAsia yang kece ngabarin kalo kita udah mendarat di LCCT dengan kata-kata yang sangat aku ingat ampe sekarang.

“Tuan-tuan dan puan-puan, kita telah pun mendarat di Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur, sila duduk sehingga isyarat pasangkan tali keledar dipadamkan. Berhati-hati semasa membuka ruang pengimpana di atas. Masa tempatan sekarang ialah…”

Pengumuman-pengumuman dalam Bahasa Melaya itu cukup menggelitik, sampe SEKARANG! Terasa ganjil, geli-geli gimana gitu. Hal ini pertanda jika aku udah mendarat di Kuala Lumpur, Malaysia!!! *sujud syukur di landasan udara* *dilindes pesawat*

Yang harus aku hadapi selanjutnya ialah imigrasi Malaysia, atau Imigresen Malaysia. Aku, dengan kecepatan berjalan yang mengungguli kecepatan Cheetah, menjadi pelari tercepat yang mencapai meja petugas imigrasi. Bukan bermaksud rasis, tapi aku lebih memilih petugas yang berdarah Melayu, karena tampaknya lebih manis dan cute aja *colek dagu om imigresen*. Om petugas kayaknya jatuh hati sama diriku. Dia ngeliatin paspor terus menatap tajam mata aku. Lalu si om tanya,

“you study kat sini?”

“hhmmm, no”, geleng-geleng sambil senyum.

Kebayang betapa cute-nya aku saat itu. Terus dia membubuhkan noktah merah ke paspor.

Ga mau buang waktu karena udah malam, aku lantas turun ke lantai bawah. Di bawah, sebelum pintu keluar di sebelah kiri, aku beli tiket Aerobus seharga 8 MYR yang menuju ke pusat kota Kuala Lumpur, KL Sentral.

Lokasi terminal bus (stesen perhkitmatan bas) LCCT berada di paling ujung kiri. Teruuuusss aja ampe mentok kiri, nah kalo ada abang-abang India teriak-teriak kayak di terminal Alang-alang Lebar, berarti kalian udah sampe tuh.

Busnya lumayan sih dibanding bus-bus di Indonesia, tapi gelap gitu. Was-was aja, jujur aku takut salah naek bus, takutnya bus penampung TKI. -__- Bus melaju santai dengan durasi satu jam hingga sampe di KL Sentral. KL Sentral ini pusatnya transportasi umum di pusat kota Kuala Lumpur. Mau kemana aja, jika tersesat, berhentilah di sini. Suasananya kayak LCCT tadi sih. Celingak-celinguk sedikit, aku memberanikan diri beli tiket KRL ke arah Serdang senilai 1.7 MYR di counter. Murah banget yah, dari pusat kota ke pinggiran kota cuma segitu, ga sampe 5000 IDR.

Platform 6 ke arah Seremban

Kayak udah sering naik kereta kece gini, aku jaim, berusaha membaur dengan rakyat jelata. Tapi pas pintu kereta ditutup, hati ini bergemuruh, mulai cemas dan berdoa semoga ga naik dari platform yang salah. Setelah beberapa stasiun terlewati, akhirnya si mbak kereta mengumumkan kalo aku udah sampe di stasiun Serdang. Turun kereta, mulai pasang muka cool lagi biar ga disangka TKI, lalu aku nyebrang untuk duduk di Maulana Bistro untuk nunggu temen yang jemput. Ini semacam kedai masakan Melayu-India gitu, tempat anak-anak gaul KL nongkrong, sedot sisha sambil nonton film (karena disediin layar tancep).

Karena laper, belom makan malem aku minta makan sama penjaga kedai. Atas saran temen yang baru datang, aku pesan nasi lemak, alias nasi gemuk, alias nasi uduk beserta lauknya, tea-o suam (a.k.a. teh anget -__-), ais orange dengan total 7.7 MYR.

Satu-satunya yang aku puji dari nasi lemak ini hanyalah telor ceploknya yg maknyus

Abis makan, kita muter-muter ke pasar malem di belakang bistro. Terus kita ke rumah naik mobil si teman. Ga sabar berpetualang di Kuala Lumpur besok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s