Semalam di Kuala Lumpur Pt. 1: Sebuah Pembuktian Diri

Tanggal 16 Oktober 2013 merupakan sebuah tanggal penting bagi hidupku. Malah tanggal ini aku rasa lebih penting dari pada tanggal 10 Oktober 2013 yang merupakan hari wisuda S1 gue. Pada hari Rabu minggu ketiga di bulan Oktober dan bertepatan sehari setelah Hari Raya Idul Adha itu, untuk pertama kalinya aku melakuakan perjalanan jauh sendirian.

Untuk landasan fundamental, maksud dan tujuannya akan diterangkan di bawah ini.

  • Landasan Fundamental
  1. Telah dibelinya tiket pergi-pulang Airasia PLM-KUL pada bulan Juli 2013. Mengenai nekadnya aku membeli tiket Airasia akan dijelaskan pada post selanjutnya.
  2. Keinginan untuk keliling dunia yang telah menggebu sejak lama bahkan sejak aku belum bisa Bahasa Inggris sama sekali.
  3. Terpengaruh oleh film Up in the Air yang diperankan aktor TTMK (Tua-tua Masih Kece) George Clooney. Film yang merupakan salah satu film kegemaranku ini menceritakan tentang Ryan Bingham yang diperankan oleh Clooney melakukan perjalanan lintas Amerika Serikat untuk melakukan pekerjaannya memecat orang. Perjalanan Ryan ke banyak tempat dan mengumpulkan miles dari setiap penerbangannya sungguh menginspirasi untuk melakukan perjalanan ini. Aku ingin ke banyak tempat di dunia sebelum menyentuh umur 30 tahun.
  4. Kuala Lumpur, Malaysia tergolong dekat untuk dijangkau dari Palembang dan tidak membutuhkan biaya besar untuk bertahan hidup.
  • Maksud dan Tujuan
  1. Biar keliatan keren aja. Ke luar negeri gitu. Strata sosial meningkat, tarif/harga pasaran meningkat. #yakaleee.
  2. Untuk menikmati peradaban yang lebih maju.
  3. Membuka mata hati dan bati serta menjadi ajang aktualisasi diri.
  4. Pembuktian diri. Ini penting! Kalau boleh curhat, selama ini aku ga pernah ada kesempatan untuk pergi ke sebuah tempat lebih dari radius 32 Km dari kota Palembang SENDIRIAN. Rekor perjalanan terjauh selama ini sejauh 32 Km, rumah-kampus-rumah -__-. Cukup mengenasakan memang. Di umur yang telah beralih ke angka 22 ini aku ga pernah pergi jauh dari rumah sendirian. Alasan utamanya, takut aku kenapa-napa.
  5. Hal yang terpenting adalah pembuktian kepada diri sendiri kalo aku bisa, berani, kuat, cekatan, gagah, tak mampu terhempas badai seperti karang yang kuat diterpa ombak di pantai. Ok, kayaknya mulai lebay. Tapi perjalanan ini terbukti sangat berati dan merubah pandangan aku tentang kehidupan. Paling ga, aku lebih belajar untuk menghormati waktu dan uang.
  • Perlengkapan Perjalanan
  1. Dua buah tas. Ransel yang ga tau berapa liter serta tas selempang kecil.
  2. Lima helai pakaian (termasuk yang ku pake serta pakaian dalam yang ga perlu gue bahas di sini).
  3. Dua celana pendek dan celana jeans panjang yang aku pake dari rumah.
  4. Paspor.
  5. Tiket pesawat.
  6. Gembok unyu berwarna orange.
  7. Dua HP beserta charger dan sambungan colokan yang ga berguna.
  8. Dan yang paling penting itu DUIT.
    Aku hanya membawa 100 RM (Ringgit Malaysia, bukan rumah makan -__-) dengan nilai beli 3.672 IDR pada waktu itu, 200 SGD dengan nilai beli 9.320 IDR, serta 200k IDR untuk jaga-jaga dan bayar pajak bandara 100k IDR. Jadi, kurang lebih hanya membawa 2.500.000 IDR. Cukup? Kuraaaaaanggg… T_T nanti aku cerita tentang itu.

Baiklah, cukup berteorinya. Aku lanjut ke hal yang lebih krusial dan signifikan. *terinfeksi virus vikinisasi* -__-

Perjalanan sore itu dimulai di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang yang ditempuh menggunakan Trans Musi. Cuaca sore itu hujan tapi tidak begitu lebat. Aku naik Airasia dengan nomor penerbangan AK 1303 berangkat pukul 18:30 WIB. Gue udah check in online di rumah sih, jadi ga perlu rasanya untuk ke bandara cepet-cepet tapi takut macet aja. Taraaaaa~ aku sampe bandara jam 3 aja gitu. Sampe jam segitu, counter verifikasi Airasia belum buka dong. Jadilah aku duduk terpaku di depan counter pembayaran pajak bandara. Menunggu di bandara itu sebenernya ga bosenin sih soalnya banyak hal yang bisa dilihat. Tepat pukul 4, counter Airasia buka. Aku kayaknya orang pertama mereka layanin. Dan tau ga, rasanya kalo udah check in online percuma aja karena boarding pass yang udah di-print dari rumah mesti diganti dengan boarding pass yang mereka print.

Leyeh-leyeh manja sambil seruput teh panas, PANAS!

Kurang lebih satu jam lagi imigrasi buka. Baiklah, dengan berbekal kartu sakti, Starbucks Card, yang ga seberapa saldonya, aku memberanikan diri menerobos otoritas bandara untuk nongkrong di Starbucks yang berada di ruang tunggu keberangkatan domestik. Aku lalu duduk manis di Starbucks dengan menyeruput Hot Chai Tea kesukaan.

Pukul 5 lewat sedikit imigrasi telah dibuka. Aku mengantri dengan rapi dengan senyum terkembang. Menurutku dan sebagian orang, petugas imigrasi itu terkesan tegas, bukan galak ya, tegas. Jadi aku mengantri dengan rapi dan senyum terkembang untuk berusaha menggoda bapak-bapak imigrasi yang akan memenodai paspor suci ini. Setelah menggunakan aura ketampanan dan status sebagai berondong yang jomblo, akhirnya bapak imigrasi yang berkumis tebal itu terbius dan akhirnya menodai paspor ku, mahkota ku.

Sekarang tinggal nunggu aja pesawat* yang akan mengangkut aku ke negeri seberang, Malaysia.

Ternodai =((

*Yang ternyata delayed selama lebih dari 30 menit karena cuaca buruk -__-

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s