CD Musik, Akankah Tinggal Kenangan?

Image

“It was the final day of business for the Virgin Mega-store chain in North America, which at its peak had 23 locations but by Sunday was down to two: the 57,000-square-foot, two-level New York outlet, and a smaller Hollywood shop that was also set to close.”
“The music chain Virgin France is planning to shut its store on the Champs-Elysées in Paris and declare itself insolvent, with reported debts of €22m (£18m).”

Virgin adalah salah satu toko retail hiburan terbesar di dunia yang didirikan pada tahun 1976. Virgin juga juga menjadi salah satu penjual Compact Disc (CD) music terbesar. Selain menjual CD, Virgin yang didirikan pengusaha terkenal asal Inggris, Richard Branson ini juga menjual berbagai hal menyangkut dunia hiburan lainya seperti buku, majalah, serta beragam souvenir.

Penutupan beberapa toko musik besar dunia menunjukkan dunia telah berganti. Teknologi telah mempengaruhi sebagian kehidupan manusia, tak terlepas dalam hal musik. Penyebab utama lesunya kehidupan musik dunia dalam hal ini penjualan CD fisik tak lain karena maraknya pembajakan hasil cipta karya musisi-musisi yang dengan susah menciptakan keindahan melalui lantunan music yang mereka ciptakan. Bayangkan saja sebuah CD yang berharga 5000 rupiah yang dapat berisi puluhan lagu bisa didapat dengan mudah. Hasil penjualan tentu tidak menyetuh musisi yang memiliki hak atas karya mereka. Mengenai pembajakan, semua pihak tampaknya telah menyerah akan hal ini karenak menyalin berpuluh lagu dapat dilakukan dengan beberapa menit saja.

Faktor lain yang mempengaruhi jatuhnya perindustrian CD fisik dikarenakan ekonomi dunia yang sedang tidak sehat. Banyak perusahan yang tidak dapat menutupi beban ekonomi seperti yang terjadi di belahan dunia barat.

Masyarakat sangat butuh akan hiburan sebagai pelipur lara, penghapus beban di dalam hidup. Musik adalah medium yang praktis sebagai sarana hiburan. Dengan kondisi perekonomian yang kurang baik ini, masayarakat berusaha untuk realisis. Membeli CD bajakan, mengunduh di internet, atau menonton di Youtube.

Di Palembang dalam 5 tahun terakhir dari 6 toko music yang menjual CD resmi, hanya satu yang bertahan, itupun tidak selengkap dahulu. Penjual baru memesan CD kea gen ketika ada permintaan, itupun kalau ada stok. Butuh waktu hingga satu bulan untuk mendapat CD yang diinginkan. Dulu ketika masih sekolah, saya memiliki program satu bulan satu kaset. Uang jajan disisihkan untuk membeli kaset. Sekarang udah jarang beli CD kecuali CD dari musisi favorit sebagai bentuk apresiasi dan juga sebagai koleksi pribadi.

Di era yang semakin kreatif seperti sekarang, banyak alternatif yang dilakukan untuk memasarkan hasil karya music yang ada. Inovasi penjualan CD fisik dialakukan oleh Kentucky Fried Chicken (KFC). KFC memasarkan CD fisik yang dipaketkan dengan paket yang mereka sebut Combo Hitlist. Awalnya langkah aneh KFC ini ditertawakan oleh banyak pihak tapi seiring berjalan waktu, penjualan CD di KFC sangat menjanjian. Tak heran jika musisi sekelas Noah, Ahmad Dhani, Rossa, Agnes Monica, Afgan, dll. akhirnya  melirik KFC sebagai tempat pendistribusian CD mereka. Direktur KFC Indonesia, Fabian Galael mengatakan jiaka  penjualan CD di KFC Indonesia dapat mencapai  850 ribu keping per bulan. Angka tersebut lebih besar dari angka penjualan CD nasional setahun. Ini menurut saya adalah ide yg inovatif lagi halal. Sah saja dilakukan tanpa mengurangi kenyaman pelanggan dalam membeli ayam. Ini pengalaman pribadi saya yang mungkin ditemui di seluruh gerai ayam goring ini. Kasir yang seharusnya menjual ayam goring akhirnya setengah memaksakan pelangganya untuk membeli CD. Orang yang hanya ingin mengisi perut dan mungkin terburu-buru disuguhkan promosi singkat untuk menarik pelanggan membeli CD. Beberapa kasus terjadi jika pelanggan merasa tertipu karena si kasir biasanya bilang jika membeli paket tertentu akan mendapatkan gratis CD yang nyatanya harus ditebus dengan harga 30.000 rupiahan. Orang kan mau makan ayam, bukan makan CD.

Inofasi cerdas dimulai oleh Apple, Inc. di tahun 2003 ketika Apple membuka sebuah toko multimedia online. iTunes Store menjual lebih dari 26 juta lagu di 119 negara.  Dengan pencapaian seperti itu iTunes meraup untung hingga $1.9 milyar di tahun 2007. Banyak anak muda mengatakan membeli lagu di iTunes karena hal kepraktisan, setelah dibeli langsung bisa didengarkan di manapun, kapanpun seumur hidup. iTunes juga memberikan LP dari beberapa album yang mereka jual. LP berisikan photo, video, lirik lagu, credits layaknya CD fisik.

Saya pribadi mendukung hal ini. Lebih menghargai hasil karya musisi yang kita idolakan. Tapi selama CD musisi yang saya idolakan dapat dibeli CD fisiknya, saya lebih memilih CD fisik dibandingkan file m4a dari iTunes. CD fisik yang saya beli akan di- rip ke iTunes library. Alasannya sedikit sentimental, saya lebih menyukai sesuatu yang lebih nyata, dapat disentuh dan dapat dirasakan secara langsung, tidak hanya sekedar didengarkan di format digital.

Pilihan ada di tangan anda. Salam pencinta musik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s